Banda Aceh - Gubernur Aceh Irwandi Yusuf berencana membeli pesawat terbang dengan uang muka Rp 10 Miliar. Hal ini lantas menuai reaksi dari anggota DPRA. Selain itu, Pemda Aceh juga menanggarkan dana hingga Rp 11 Miliar untuk Turnamen Sepakbola Tsunami Cup. Padahal dana ini lebih dibutuhkan oleh warga miskin yang semakin terpuruk di Aceh.

Turnamen sepakbola Tsunami Cup ini dinilai tidak cocok dengan kondisi 26 Desember, saat warga Aceh larut dalam doa dan kesedihan, sedangkan sepakbola identik dengan teriakan dan hura-hura.

Warga Banda Aceh, Sulaiman meminta Irwandi membatalkan rencana pembelian pesawat dan turnamen sepakbola Tsunami Cup. “Saat kita mau take off di bandara Sultan Iskandar Muda, lihatnya kesebelah kanan jendela. berjejer pesawat-pesawat latih yang mubajir, bertahun-tahun hanya menjadi rongsokan, seharusnya Irwandi belajar dari pengalaman masa lalu, kondisi warga miskin di Aceh sangat memprihatinkan, jika Rp 21 Miliar itu kita gunakan untuk rakyat, lihatlah berapa besar manfaatnya,” jelasnya.

Sebelumnya diberitakan Ketua Komisi II DPR Aceh Nurzahri, ST menilai. Tim Anggaran Pemerintah Aceh (TAPA), banyak memasukkan kegiatan aneh pada anggaran perubahan KUA-PPAS 2017 itu.

Tadi kita rapat dengan TAPA, yang diwakili Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Aceh, Azhari Hasan, SE. M.Si. Namun, dia (Azahri Hasan) tidak bisa menjelaskan beberapa program yang aneh itu, makanya rapat kita tunda. Dan kita lanjutkan malam ini,” jelas Nurzahri di Banda Aceh, Selasa sore , (19/9/19).

Sebut Nurzahri, untuk pengadaan pesawat udara, Pemerintah Aceh hanya memasukkan biaya panjar. Padahal, setahu Nurzahri, dalam pengadaan barang dan jasa milik pemerintah, tidak ada mekanisme yang mengatur tentang uang panjar. Terlebih, dalam pengadaan pesawat itu tidak disebutkan jenis dan spesifikasi pesawat yang akan dibeli Pemerintah Aceh.

“Uang panjar pembelian pesawat udara Rp 10 miliar, begitu saja, kita minta penjelasan tidak bisa dijawab. Inikan aneh bin ajaib ini,” katanya heran.

Selanjutnya, ada kegiatan penyelengaraan even Tsunami Cup, yang dananya mencapai Rp 11 miliar. Menurutnya, dengan uang sebesar itu, akan lebih berguna jika dibangun rumah kaum duafa, yang memang di Aceh, banyak kaum duafa yang butuh tempat tinggal lebih layak. Dari pada diadakan even sepakbola yang sifatnya hanya hura-hura. “Padahal, korban tsunami butuh doa, bertahun-tahun memperingati kejadian tsunami, baru sekarang ada even sepak bola,” ungkap Nurzahri.

Kemudian, sebut Nurzahri ada kegiatan Tsunami Game dan Sail Sabang yang membutuhkan anggaran Rp 7,5 miliar. Padahal, katanya, Tsunami Game dan Sail Sabang tidak diketahui kegiatan mana, apakah nasioanal atukah agenda pemerintah Aceh. Bila agenda nasional, katanya tentu bisa dibiayai melalui Anggaran pendapatan Belanja negara (APBN), tanpa harus mengampil uang daerah yang bisa dipergunakan pada porsi yang lebih penting.

Untuk itu, pada rapat selanjutnya, dirinya akan meminta penjelasan Pemerintah Aceh, tentang program-program yang tidak rasional itu. “Kalau tidak bisa dijelaskan, saya tolak, saya tidak tahu, kawan-kawan lain, namun tadi semua kita mempertanyakan ini,” ujar Nurzahri.

 

(red/modus)

Facebook Comments